URNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

PERCOBAAN  6

 Skrining Fitokimia Senyawa Bahan Alam

 




 

DISUSUN OLEH :

PALMA LARISYAH LUBIS (A1C118014)

 

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Drs. SYAMSURIZAL , M.Si

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020



PERCOBAAN VI

I.                   Judul : Skrining Fitokimia Senyawa Bahan Alam

II.                Tujuan : Adapun tujuan dalam percobaan ini yaitu :

1.      Dapat mengenal dan memahami teknik-teknik skrining fitokimia bahan alam

2.      Dapat mengetahui jenis-jenis pereaksi yang digunakan dalam skrining fitokimia bahan alam.

3.      Dapat melakukan skrining fitokimia bahan alam dari suatu simplisia tumbuhan.

III.             Landasan Teori

      Skrining fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam satu penelitihan fitokimia yang bertujuan umtuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa yang terkadang dalam tanaman yang sedang diteliti. Metode skirining fitokimia dilakukan dengan melihat reaksi pengujian warna degan menggunakan suatu pereaksi warna. Hal penting yang berperan penting dalam skring fitokimia adalah pemilihan pelarut dan metode ekstraksi (Kristianti dkk, 2008).

Pendekatan fitokimia meliputi analisis kualitatif kandungan kimia dalam tumbuhan atau bagian tumbuhan (akar, batang, daun, bunga, buah dll). Terutama kandungan metabolit sekunder yang bioaktif yaitu alkaloida, antrakuinon, flavonoida, glikosida jnatung, saponin (steroid dan hiterpenoid ), tannin (polifenolat), minyak atsiri (terpenoid) iridoid dan sebagainya. Dengan tujuan pendekatan skring fitokimia dalam untuk mensurvei tumbuhan untuk mendapatkan kandungan bioaktif atau kandungan yang berguna untuk pengobatan (Robinso,1995).

Adapun metode yang digunakan atau dipilih untuk melakukan skrining fitokimia harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain (Robinson,1995).

1.    Sederhana

2.    Cepat

3.    Dapat dilakukan dengan peralatan minimal

4.    Selektif terhadap golongan senyawa yang dipelajari

5.    Bersifat semikuantitatif yaitu memiliki batas kepekaan untuk senyawa yang dipelajari.

6.    Dapat memberikan keterangan tambahan ada/tidaknya senyawa dari golongan yang dipelajari.           

Untuk identifikasi metabolit sekunder yang terdapat  pada suatu ekstrak yang digunakan berbagai metode berikut (Harbone,1987)

a.       Identifikasi senyawa fenolik

Identifikasi adanya senyawa fenolik dalam suatu cupikan dapat dilakukan dengan peraksi besi (III) klorida 1 % dalam etanol. Adanya senyawa fenolik ditandai dengan timbulnya warna hijau, merah, ungu, biru, atau hitam yang kuat.

 

a.       Identifikasi senyawa golongan saponin (steroid dan terpenoid)

Saponin adalah suatu golongan gliosida yang larut dalam air dan mempunyai karateristik, dapat membentuk busa apabila dikocok, serta mempunyai kemamampuan menghemolisis sel darah merah. Sapinin mempunyai toksisitas yang sangat tinggi. Berdasarkna strukturnya saponin dapat dibedakan atas dua macam yaitu, saponin yang mempunyai rangka steroid dan saponi yang mempunyai rangka triterpenoid. Berdasarkan strukturnya saponin memberikan reaksi warna yang karateristik dengan pereaksi Libermann-Burhard (LB).

b.      Identifikasi senyawa golongan alkaloid

Alkaloid merupakan senyawa nitrogen yang sering terdapat dalam tumbuhan. Atom nitrogen yang terdapat pada molekul alkaloid pada umumnya merupakan atom nitrogen sekunder ataupun tersier dan kadang- kadang terdapat sebagai atom nitrogen kuarterner. Salah satu pereaksi untuk mengidentifikasi adanya alkaloid menggunakan pereaksi Dragendorff dan pereaksi mayer.

c.       Identifikasi senyawa antrakuinon

Antrakuinon merupakan suatu glikosida yang didalam tumbuhan biasanya terdapat sebagai turunan antrakuinon terhidrolisis temitilasi, atau terkarboksilasi. Antrakuinon berikatan dengan gula sebagai o-glikosida atau c- glikosida. Turunan atraquinon dapat beraksi dengan basa memberikan warna ungu atau hijau.

d.      Identifikasi senyawa golongan flavonoid

Flavonoid merupakan senyawa yang umumnya terdapat pada tumbuhan berpembuluh, terikat pada glukosida dan aglikon flavonoid. Dalam menganalisis flavonoid. Yang diperiksa adalah aglikon dalam ekstrak tumbuhan yang sudah dihidrolisis. Proses ekstraksi senyawa ini dilakukan dengan etanol mendidih untuk menghindari oksidasi enzim.

 

           

IV.              Alat Dan Bahan

4.1. Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :

1.      Erlenmeyer 250 ml

2.      Gelas Kimia 200 ml

3.      Lumpang

4.      Gelas ukur

5.      Tabung reaksi 20 bh

6.      Plat tetes

7.      Pipet tetes

8.      Corong gelas

 

4.2  Bahan

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :

1.      Pereaksi Dragendor

2.      Pereaksi Meyer

3.      Pereaksi Wagner

4.      Shinoda

5.      Kloroform

6.      Etanol

7.      Metanol

8.      Heksan

9.      NaOH padatan

10.  Iodine

11.  Brusin

12.  KI

 

 V.  Prosedur Kerja

5.1  Pemeriksaan Alkaloida

1.      Sebanyak 2-4 gr  tumbuhan dihaluskan pada lumpang dengan menambahkan sedikit kloroform dan pasir bersih (silica), setelah bahan umbuhan sedikit halus, basahi dengan 10 ml kloroform, gerus lagi kemudian tambahkan 10 ml kloroform amoniak 1/20 N dan gerus lagi.

2.      Saring ke dalam tabung reaksi tambahkan 10 tetes larutan asam sulfat 2 N, dikocok, lapisan asam didekantasi dan dipindahkan ke dalam tiga tabung reaksi kecil dan masing-masing tabung tambahkan satu tetes pereaksi Meyer, Wagner, dan Dragendorf.

3.      Bila mengandung ada alkaloid, akan terbentuk endapan dimana tipe endapan yang terbentuk sangat tergantung pada jumlah alkaloid yang ada dalam simplisia sampel.

4.      Sebagai pembanding hasil pengujian, maka digunakan larutan alkaloid (brusin) dalam HCl 2 N.

 

5.2  Pemeriksaan Steroid dan Terpenoid

1.      Dimasukkan simplisia tumbuhan 5 gr kering yang telah dirajang halus kedalam erlenmeyer 250 ml. Lalu tambahkan dengan 25 ml etanol dan diaduk-aduk.

2.      Panaskan diatas penangas air selama 10 menit (jangan menggunakan api langsung), dan saring dalam keadaan panas.

3.      Diuapkan filtrat pelarutnya dengan rotary evaporator atau dengan menggunakan penangas air sehingga diperoleh ekstrak pekat etanol.

4.      Dititrasi ekstrak pekat etanol dengan sedikit eter dan beberapa tetes larutan eter ditempatkan dalam 2 lobang plat tetes dan biarkan kering.

5.      Ditambahkan 2-3 tetes anhidrida asam asetat, diaduk dengan hati-hati.

6.      Ditambahkan 1 tetes asam sulfat pekat dan amati perubahan warna yangterbentuk.

7.      Periksalah reaksi dengan menambahkan asam sulfat pekat pada lobang plat tetes yang satu lagi, amati warna yang terjadi. Kalau terbentuk warna yang sama sangat boleh jadi contoh tumbuhan yang diperiksa tidak mengandung terpenoida tapi senyawa lain yang bereaksi dengan asam sulfat pekat.

 

5.3  Pemeriksaan flavonoida

1.      Diekstrasksi 0,5 gr simplisia tumbuhan yang telah dihaluskan dengan 10 ml etanol panas selama 5 menit dalam tabung reaksi.

2.      Disaring hasil ekstrak dan filtratnya ditambahkan beberapa tetes HCl pekat, lalu ditambahkan lebih kurang 0,2 gr bubuk magnesium. Bila timbul warna merah tua, menandakan contoh mengandung flavonoid. Cara uji teknik shinoda (Mg+HCl).

3.      Cara lain pengujian flavonoid, dengan menambahkan ekstrak etanol diatas dengan 2 tetes NaOH 10% . adanya flavonoid ditandai dengan perubahan warna kuning-orange merah.

 

5.4  Pemeriksaan Saponin

1.      Kedalam sebuah tabung reaksi dimasukkan lebih kurang 0,5 gr bahan tumbuhan yang diperiksa, tambahkan 10 ml air panas dan biarkan menjadi dingin kemudian dikocok selama 10 detik.

2.      Apabila pada perlakuan ini terbentuk busa yang stabil setinggi 1-10 cm selama 10 menit dan tidak hilang pada penambahan satu tetes asam klorida 2 N berarti tes saponin adalah positif.

3.      Sebagai pembanding kadar saponin dalam contoh yang digunakan tumbuhan lidah buaya (aloevera sp) dengan korelasi ukuran tinggi busa relatif terhadap kadar saponin berikut : lebih tinggi dari 4 cm (++++), 3-4 cm (+++), 2-3 cm (++), dan dibawah 1 cm (+).

 

5.5  Pemeriksaan Kuinon

1.      Simplisia tumbuhan di potong-potong halus, kemudian diekstraksi dengan eter.

2.      Kalau warna contoh uang diuji masuk ke dalam pelarut eter boleh jadi zat warna yang ada adalah kuinon.

 

5.6  Pemeriksaan Kumarin

1.      Ekstrak metanol atau ekstrak etanol dari simplisia tumbuhan dapat dideteksi keberadaan kumarinnya dengan cara ekstrak etanol atau metanol dari contoh di kromatografi lapis tipis, dengan menggunakan eluen etil asetat atau etil asetat : metanol (9:1) atau (8:2).

2.      Dibawah sinar ultraviolet gelombang panjang 360 nm kumarin biasanya akan berfloresensi biru dan kalau noda ini diberi uap ammonium akan terlihat noda yang berwarna kuning.

 Berikut link video nya

 

PERMASALAHAN

1.      Kenapa pada saat pemeriksaan steroid dan terpenoid pada langkah langkahnya tidak menggunakan api langsung ?

2.      Apa fungsi NaOH padatan pada praktikum ini?

3.      Apa prinsip reaksi Meyer pada percobaan ini ?


Komentar

  1. Saya Nely Frisca (A1C118036) akan mencoba menjawab permasalahan nomor 1. Pada saat pemeriksaan steroid dan terpenoid pada langkah-langkahnya tidak menggunakan api langsung melainkan menggunakan penangas air tujuannya pada saat pemanasan itu panas yang dihasilkan konstan dan reaksi dapat berlangsung sempurna.

    BalasHapus
  2. Saya Erik Surya Kurniawan NIM A1C118027 akan mencoba menjawab permasalahan nomor 3. Prinsip kerja dari pereaksi Meyer dalam uji alkaloid ialah pereaksi ini akan bereaksi dengan senyawa alkaloid yang terkandung didalam simplisia membentuk endapan berwarna putih.

    BalasHapus
  3. Baiklah, saya Wiwit Rama Riska NIM A1C118022 akan mencoba menjawab permasalahan nomor 2, yaitu Untuk pengujian flavonoid. Terima kasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini